Peranan, Makna, dan Filsafat
Biji-bijian Dalam Upakara
I. Latar Belakang
Sebagai umat yang beragama Hindu sudah sepantasnya
kita mengetahui tiga kerangka dasar agama Hindu yaitu Tattwa, Susila
dan Upacara. Tattwa adalah pengetahuan kita sebagai umat Hindu
terhadap filsafat dan makna dari agama Hindu, Susila adalah pengetahuan
kita terhadap tatanan hubungan social yang kita jalankan di masyarakat, dan Upacara
adalah berbagai ritual yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk memuja dan
mengungkapkan rasa cinta dan syukur kita ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu berdasarkan
masing-masing hutang yang dimiliki, yang disebut juga dengan Tri Rna.
Tiga hutang tersebut terdiri dari Dewa Rna adalah hutang kepada Tuhan
karena telah menciptakan manusia beserta alam semesta kemudian dibayarkan
dengan melaksanakan upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Hutang yang
kedua adalah Rsi Rna yaitu hutang kepada para pendeta dan guru suci
karena beliau telah memberikan tuntunan suci kepada umat manusia agar dapat
menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, juga pendeta sebagai pengantar
dan menghaturkan segala sesajen kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Rsi
Rna ini dibayarkan dengan melakukan upacara Rsi Yadnya. Dan hutang
yang ketiga adalah Pitra Rna yaitu hutang kepada sesama manusia,
termasuk orang tua kita, sanak sodara dan manusia lainnya. Pitra Rna ini
dapat dibayarkan dengan melaksanakan upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya.
Manusa Yadnya adalah upacara manusia sejak dalam kandungan hingga
menikah termasuk juga memberikan jamuan makan kepada teman dan saodara yang
datang dalam upacara tersebut. Sedangkan upacara Pitra Yadnya adalah
upacara yang dilakukan ketika saudara kita meninggal hingga upacara penyucian
arwah dan arwah yang suci tersebut kembali distanakan untuk dipuja di rumah
masing-masing.
Dalam kelima jenis Yadnya tersebut banyak sekali
pemakaian sarana dan prasarana dalam upakara. Sarana upakara tersebut tentunya
berasal dari alam seperti bunga, dedaunan, buah-buahan serta biji-bijian.
Pemakaian berbagai macam sarana tersebut akan menyatu kedalam daya seni dan
kreasi masing-masing manusia yang menghaturkan sesajen tersebut, sesuai dengan
sifat Yadnya yang menyatu kedalam setiap situasi dan kondisi di wilayah
setempat. Yang dibahas dalam makalah ini adalah pemakaian biji-bijian dalam
pembuatan sebuah upakara persembahan.
Biji-bijian sangat banyak sekali kegunaannya dalam
sebuah upakara. Dan hampir setiap upakara memakai biji-bijian baik itu
biji-bijian secara utuh maupun biji-bijian sudah diolah sedemikian rupa menjadi
tepung ataupun nasi. Dalam makalah ini akan mencoba memilah dan lebih merinci
pemakaian biji-bijian dalam setiap upakara dan sesajen. Dan dalam makalah ini
akan mencoba menjelaskan makna dan filsafat biji-bijian dalam persembahyangan
serta biji-bijian apa saja yang dipakai untuk segehan dalam upacara Bhuta
Yadnya.
II. Pembahasan
2.1
Pemakaian Biji-Bijian Dalam Upakara
Buah-buahan dan biji-bijian juga merupakan sebagai
sarana dalam upacara yadnya. jenis buah-buahan dan biji-bijian banyak
digunakan oleh umat hindu sebagai persembahan dan sebagai wujud rasa terima
kasih ke hadapan Hyang Widhi yang Maha Esa pengasih dan dan maha
pemberi. Apa yang kita miliki itulah yang dipersembahkan. Hasil karya berupa
buah dan biji-bijian sebenarnya merupakan anugerah Tuhan, dan perlu disadari
bahwa segala yang ada merupakan ciptaan-Nya. Sarana persembahan berupa
buah-buahan dan biji-bijian hendaknya dipersembahkan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku dan selalu dalam keadaan suci atau sukla. Diushakan agar tidak
mempersembahkan suatu sarana yadnya yang bukan milik sendiri,
apalagi memperoleh sarana persembahan dengan jalan kekerasan atau hasil curian,
sudah tentu hal seperti ini sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu.
Pemakaian biji-bijian dalam upacara keagamaan yang
dirangkaikan dalam sebuah upakara sangat banyak sekali pemakaiannya. Semua
jenis upakara hampir memakai biji-bijian dari bentuk bijinya yang kecil hingga
bijian yang besar. Seperti yang telah disebutkan dalam Bhagawad Gita IX.26
yaitu :
patram puspam phalam
toyam yo me bhaktya prayacchati
tad aham
bhakty-upahrtam
asnami prayatatmanah
Artinya :
Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau
air dengan cinta bhakti, aku akan menerimanya.
Dari sloka diatas dapat disimpulkan bahwa kegunaan
biji-bijian sangatlah penting dalam setiap upakara, dalam artian biji-bijian
merupakan persembahan yang wajib dalam setiap upacara.
Pemakaian biji-bijian antara lain terdapat dalam
upakara seperti daksina. Daksina biasa kita temui dalam setiap upakara,
terutamanya adalah upakara pejati. Kata daksina mengandung arti Brahma, dan
Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi (sudarsana,18), dengan demikian
bahwa daksina merupakan simbol dari stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maka
daksina dijadikan tempat duduknya para dewa sebagai manifestasi Tuhan yang akan
diberikan persembahan. Pemakaian biji-bijian dalam daksina adalah menjadi
simbol udara sebagai cerminan Sang Hyang Bayu (sudarsana,18). Biji beras dalam
daksina biasanya diletakkan sebagai dasar, atau di bagian bawah di dalam
bedogan, sebagai dasar dari kelapa yang merupakan simbol dari Brahma.
Pemakaian biji-bijian berikutnya adalah pada uapakara
yang sering kita temukan yaitu peras. Peras merupakan bagian dari upakara
pejati. Dalam peras kita temukan juga pemakaian biji –bijian berupa beras yang
dikukus dan dibentuk erucut yang kecil, dalam upakara dikenal dengan istilah
tumpeng atau penek. Tumpeng yang terdapat di peras adalah sebanyak 2 buah
dengan bentuk dan ukuran yang sama. Tumpeng dua buah merupakan simbol gunung,
dan cerminan dari kekuatan purusanya Sang Hyang Widhi, sekala niskala
(sudarsana,26). Meskipun biji-bijian dalam peras tersebut tidak seperti pada daksina,
namun tetap pada dasarnya bahan bakunya adalah dari biji beras, namun cara
penyajiannya saja yang berbeda.
Pemakaian biji-bijian dalam bentuk lain adalah berupa
biji beras yang di tumbuk hingga halus sehingga berbentuk seperti tepung.
Biji-bijian yang halus ini dapat kita jumpai pada sarana upakara yang kita
kenal dengan penyeneng. Dalam buku acuan yang kami pergunakan dalam penyeneng
diisikan beras tumbuk atau tepung. Dalam praktek di lapangan juga dijumpai
penyeneng yang diisi biji beras utuh yang tidak di haluskan. Dalam buku
Sudarsana halaman 32 disebutkan; penyeneng ini pertama diisi tepung
disebut “tepung tawar”, lekukan kedua diisi arang jajan dan daun kayu
sakti yang digilas keduanya disebut “pengresikan”, dan lekukan yang
ketiga diisi kapas yang berisi minyak wangi yang disebut “pengelenga”.
Pemakaian biji-bijian dalam upakara yang lain cukup
banyak sekali, seperi pada bagia pulakerti juga dimasukkan beberapa jenis
biji-bijian, dan berbagai jenis jaru juga memakai biji-bijian. Dalam pelaksanaan
agni hotra juga dipersembahkan biji-bijian kepasa Sang Hyang Agni, dengan
melempar biji-bijian tersebut kedalam api. Sedemikian banyaknya pemakaian
biji-bijian dalam setiap upakara yang dibuat sebagai bahan persembahan kepada
Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
2.2 Makna
Filosofi Bija Dalam Persembahyangan
Bija sangat sering kita dengar dan kita pakai saat
selesai persembahyangan, apakah kita sudah mengetahui apa makna dari bija
tersebut?, dan apa filosofi dari bija tersebut?. Bija yang kita ketahui terbuat
dari beras utuh yang telah direndam dengan air suci (tirtha) sehingga bija
tersebut mudah ditempelkan pada kulit dahi. Bija dibagikan pada akhir dari
rangkaian persembahyangan, setelah memohon tirta baru dibagikan bija.
Mengenai bija ini adalah lambang bibit kesucian yang
harus ditanam dalam lubuk hati sanubari. Bija artinya secara leksikal adalah
biji. Phalawija artinya buah yang berbiji. Namun dalam hal upacara keagamaan
ini bija adalah sarana upakara dalam pemujaan yang dibuat dari biji beras yang
utuh tidak boleh memakai beras yang patah direndam di air cendana. Ada juga
yang dicampur dengan kunir, sehingga menjadi berwarna kuning. Karena itu bija
disebut juga Aksata. Ksata artinya patah. Aksata artinya tidak patah atau utuh.
Bija dalam bahasa jawa kuna juga berarti Putra. Putra dalam bahasa Sanskerta
artinya anak penyelamat dari neraka. Anak dalam bahasa sanskerta disebut juga
Kumara. Dewa Kumara adalah Tuhan sebagai dewanya anak-anak. Dalam kitab weda
Parikrama mantram untuk membuat bija menggunakan Kumara Mantra. Ini artinya
dewa dari bija adalah Dewa Kumara. Ini berarti dengan kita mendapatkan bija
selesai sembahyang kita telah mendapatkan bibit kesucian dari Dewa Kumara
(wiana, 104).
Kembali pada masyalah mabija setelah sembahyang
sebagai proses memohon benih-benih kesucian pada Hyang Kumara. Kumara dalam
pantheon Hindu adalah putra dewa Siwa. Ini berarti prosesi pemakaian bija
adalah suatu prosesi mendapatkan benih-benih ke siwaan atau keilahian. Dengan
kata lain mebija adalah suatu upaya rohani untuk menjadi putra-putra siwa atau
Tuhan. Dengan demikian umat merasa semakin dekat denga Tuhan. Pemakaian bija
setelah sembahyang biasanya pertama dimakan lima atau tiga biji, setelah itu
diletakkan pada bagian badan yang diyakini memiliki kepekaan rohani. Misalnya
diantara kening atau biasanya disebut selaning lelata. Radius selaning lelata
itu sampai pelipis kiri dan kanan dan juga di hulu hati. Memang tidak ada
sumber suci yang pasti menyebutkan dimana seharusnya bija itu diletakkan. Untuk
kebersamaan telah disepakati untuk ditelan dan diletakkan diantara kening atau
selaning lelata. Diantaranya yang terpenting itu adalah ditelan. Hal ini dapat
kita perhatikan konsep keberadaan Tuhan menurut Sweta Swatara Upanishad, 20
yang menyebutkan bahwa sang diri Yang Maha Agung itu berkeadaan lebih kecil
dari yang terkecil, lebih halus dari yang terhalus, lebih besar dari yang
terbesar dan bersemayam di hati setiap makhluk. Ini artinya kalau kita ingin
menyemaikan benih-benih Ketuhanan dalam diri tunjukkanlah pada hati kita.
Bija memiliki beberapa makna filosofis yang dikaitkan
dengan spiritualisme.
- Kita
lihat dari asal katanya. Bija berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang diadopsi
dari kata vija (Sanskrit). Vija dapat dikaitkan dengan kata (pranava) Om
sebagai nama utama dari Tuhan. Om juga disebut vijaksara, sebagai aksara
Brahman yang tertinggi. Om adalah nama Tuhan yang paling sakral dan
memiliki makna yang tidak terbatas. Memakai bija di kening berarti memuja
Tuhan dalam wujud Omkara. Hal ini juga berarti konsentrasi pikiran menuju
kesempurnaan Tuhan. Orang yang memakai bija (tilaka) diharapkan dapat
mewujudan perilaku sattvika, pengasih, dan bijaksana. Demikianlah makna
kata bija yaitu sebagai kata lain dari Omkara.
- Bija
memiliki makna anatomis. Dalam Siva Samhita ditemukan sloka-sloka tentang
tujuh cakra (simpul syaraf) utama yang membujur di sepanjang tulang
belakang. Ketujuh cakra itu memengaruhi fungsi biologis dan fisiologis
tubuh. Salah satu cakra adalah cakra Ajna (baca: adnya) yang terletak di
kedua alis. Cakra ajna memiliki daun bunga dua yang dalam masing-masing
kelopaknya bertuliskan aksara vam dan ksam. Siva Samhita juga menyatakan
bahwa cakra ini adalah petemuan tiga pembuluh, yaitu ida, pinggala, dan susumna.
Pertemuan ketiganya ini disebut Triveni. Pembuluh ida (pembuluh bulan)
yang dingin mengalir dari bagian kanan cakra ajna dan berbelok menuju
lubang hidung sebelah kiri, semantara pinggala (pembuluh matahari) yang
hangat mengalir dari bagian kiri ajna dan berbelok ke lubang hidung kanan.
Ida membawa hawa dingin dan aktif pada malam hari, sedangkan pinggala
membawa hawa panas yang aktif pada siang hari. Oleh sebab itu, seseorang
yang sehat akan menghembuskan udara yang agak hangat dari lubang hidung kanannya,
sementara dari lubang hidung kirinya akan terhembus udara yang agak
dingin. Pembuluh ketiga yaitu susumna adalah jalan keluar-masuk roh. Dalam
kaitannya dengan pemakaian bija di kening, kita diharapkan mampu
mengaktifkan energi dari ketiga pembuluh tersebut untuk menciptakan
kesehatan yang baik. Apalagi jika seseorang mampu berkonsentrasi pada
ajna, makhluk-makhluk seperti yaksa, gandharva, kinnara, dan apsara akan
mematuhi perintahnya (Siva Samhita 113).
- Bija
memiliki makna benih. Bija terbuat dari beras yang seharusnya lonjong
sempurna, bukan butiran-butiran yang terpecah-pecah seperti yang sering
kita temui. Beras yang bentuknya sempurna melambangkan lingga, stana Siva
Mahadeva. Selain itu, beras yang bentuknya sempurna juga melambangkan alam
semesta yang juga berbentuk bulat. Bija adalah benih padi yang berwarna
putih yang bermakna hendaknya kita menumbuhkan benih-benih kesucian dalam
kehidupan. Kini banyak kita lihat orang-orang yang memakai bija tetapi
tidak mampu menumbuhkan benih-benih kesucian dalam dirinya. Apabila semua
orang dapat menumbuhkan kesucian dalam dirinya, semua akan dapat memanen
hasilnya yaitu padi keharmonisan.
- Bija
memiliki makna kesungguhan dan kesadaran karena seseorang yang memakai
bija berarti orang yang seharusnya memiliki keyakinan dan kesadaran akan
kewajibannya untuk mendekatkan diri ke hadapan Tuhan. Orang yang memakai
bija akan merasakan bahwa Tuhan berstana dalam dirinya sebagai Paramatman
dan merasa terlindungi. Ia juga akan merasakan bahwa Tuhan berada dalam
setiap makhluk hidup, termasuk kuman-kuman, bakteri, tumbuhan, dan hewan.
Dengan demikian, ia akan belajar untuk menghormati eksistensi makhluk lain
sebagai bagian dari kekuasaan Tuhan.
2.3
Biji-Bijian Yang Dipakai Untuk Segehan
Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang kecil
disebut dengan “Segehan“, Sega berarti nasi (bahasa Jawa: sego). Oleh sebab
itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya,
lengkap beserta lauk pauknya (manacikapura,13-05-2014:13.00). Segehan yang
terbuat dari sego atau nasi ini juga terbuat dari biji-bijian namun biji-bijian
yang telah dimasak menjadi nasi. Biji beras yang dimasak menjadi nasi dan
diberi warna sesuai dengan arah mata angin. Dalam praktek lapangan ada juga
yang menghaturkan segehan itu berupa biji-bijian sesuai dengan warnanya.
Misalkan warna hitam dipakai biji ketan hitam yang dihaturkan ke arah utara,
warna kuning dipakai ketan yang dihaturkan ke arah barat, warna putih dipakai
beras yang dihaturkan kearah timur, dan warna merah dipakai beras merah yang
dihaturkan ke arah selatan.
Segehan yang berupa nasi dibentuk dengan berbagai cara
seperti nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng
(nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa
alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat
sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya. dipergunakan
juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga
membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan
air, tuak, arak serta berem.
Segehan adalah sejenis banten caru kecil yang
ditujukan pada alam bawah, terutama sekali alam bhutakala. Menurut kepercayaan
Hindu di Bali, perwujudan Bhutakala adalah penjelmaan dari saudara empat kita
yang diajak lahir bersama, karena suatu hal proses alam, maka beliau ini
berubah wujud dalam bentuk bhuta yaitu :
- Darah
menjadi Anggapati/nafsu/kala jahat yang ada dalam tubuh manusia,
- Lamas
menjadi Mrajapati sebagai penghuni setra atau kuburan dan
perempatan/pertigaan agung,
- Yeh
Nyom menjadi Banaspati dapat berupa jin, setan, tonya, penjaga
sungai/pangkung/jurang dan tempat keramat lainnya, dan
- Ari-ari
menjadi Banaspati Raja, sebagai penghuni dan penjaga pohon kayu
besar/hutan (pasek,32)
Jenis-jenis segehan ini bermacam-macam sesuai dengan
bentuk dan warna nasi yang di gunakannya. Adapun jenis-jenisnya adalah Segehan
Kepel dan Segehan Cacahan, Segehan Agung, Gelar Sanga, Banten Byakala dan
Banten Prayascita.
Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang
dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu.
Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di
halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Fungsi segehan ini sebagai aturan terkecil (dari caru)
untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar terbina keharmonisan hidup, seluruh
umat manusia terhindar dari segala godaan sekala niskala, terutama terhindar
dari gangguan para bhuta-kala (Kala Bhucara-Bhucari). Segehan yang besar
berbentuk caru.
Warna segehan disesuaikan dengan warna kekuatan
simbolis kedudukan di dikpala dari para dewa (Istadewata) yang dihaturi
segehan. Pada waktu selesai memasak, dipersembahkan segehan cacahan (jotan,
yadnya sesa, nasinya tidak dikepel, tidak dibuat tumpeng) kehadapan Sang Hyang
Panca Maha Bhuta. Segehan ini dihaturkan di tempat masak (api), di atas tempat
air (apah), di tempat beras (pertiwi), di natah/halaman rumah (teja), dan di
tugu penunggu halaman rumah (akasa). Dalam hal ini bahan yang dimasak (nasi,
sayur, daging, dan lauk-pauk lainnya) itu diyakini terdiri atas bahan panca
mahabhuta. Segehan ini dihaturkan sebagai tanda terima kasih umat terhadap
Hyang Widhi karena telah memerintahkan agar para bhuta (panca maha bhuta) membantu
manusia sehingga bisa memasak dan menikmati makanan, dapat hidup sehat, segar
dan sejahtera.
Ada pula segehan yang dihaturkan di perempatan jalan,
di halaman rumah, di luar pintu rumah, dan sebagainya. Itu disebut segehan
manca warna, kepel, atau agung. Segehan manca warna ini di timur berupa nasi
berwarna putih (Dewa Iswara), di selatan nasi berwarna merah (Dewa Brahma), di
barat nasi berwarna kuning (Dewa Mahadewa), di utara nasi berwarna hitam (Dewa
Wisnu), dan di tengah-tengah nasi berwarna manca warna atau campuran keempat
warna tadi (Dewa Siwa), sesuai dengan kekuatan Istadewata yang berkedudukan di
empat penjuru arah mata angin ditambah satu di tengah-tengah.
III. Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah
:
- Menurut
Bhagawad Gita Adhyaya IX, sloka 26 menyebutkan bahwa biji-bijian adalah
bagian dari persembahan, maka biji-bijian merupakan sesuatu yang wajib
dipersembahkan dalam setiap upacara.
- Persembahan
dalam bentuk biji-bijian tidak kanya berbentuk utuh seperti bentuk aslinya,
juga bisa diolah seperti dikukus dan dibentuk menyerupai limas sebagai
simbol gunung dan di giling menjadi tepung yang biasa disebut sebagai
tepung tawar.
- Biji-bijian
juga dipakai setelah persembahyangan tepatnya setelah memohon tirta
wangsuh pada, dan bijian yang berupa biji beras tersebut ditaruh
dibeberapa bagian tubuh yang memiliki kepekaan terhadap kerohanian seperti
di ubun-ubun, di dahi dan pelipis.
- Bija
pada intinya harus ditelan karena bija sebagai simbol benih-benih siwa
yang akan tumbuh dalam tubuh manusia. Sehingga benih siwa itu akan tumbuh
menjadi siwa-siwa baru dalam diri manusia.
- Biji-bijian
yang dipakai untuk segehan adalah berupa biji beras putih yang dimasak
menjadi nasi, kemudian nasi tersebut diberi warna sesuai dengan warna arah
mata angin.
- Biji-bijian
yang dipakai segehan juga dapat berupa biji-bijian murni yang memiliki
warna sesuai dengan warna biji tersebut, seperti warna hitam diwakilkan
oleh biji ketan hitam, warna kuning diwakilkan oleh ketan putih, warna
putih diwakilkan oleh biji beras, dan warna merah diwakilkan oleh biji
beras merah.
sekian kutipan artikel ini, terimakasih atas kunjungannya dan menyempatkan diri untuk membaca.
suksme.