BALI, ME'NYEPI' PADA SEBUAH NEGERI REPUBLIK
Bali, aku bertanya, tahun berapa engkau menjadi bagian
negara Indonesia? Mungkin baru tahun 1950-an, saat kemerdekaan Indonesia
diucapkan, Bali masih dalam kuasa-kuasa transisi antara Belanda dan Jepang.
Sedang Nyepi telah lampau dilaksanakan di bali, bahkan sebelum kekuasaan
raja-raja Bali. Dalam tradisi tatwa Bali, maka Nyepi adalah perintah Hyang
Pasupati kepada tiga putranya Hyang Gnijaya berstana di gunung Lempuyang, Hyang
Putranjaya berstana di Gunung Agung, Hyang DewI Danuh berstana di Gunung Batur,
ketiganya disebut dengan penuh hormat sebagai Penyiwian Trilinggagiri.
Selanjutnya diyakini kemudian Hyang Pasupati kembali mengutus empat putranya,
agar ke bali, agar pulau itu stabil. Bali saat itu digambarkan dengan kalimat
suci: Duk tan hana paran-paran. Dengan kedatangan empat putranya, maka dikenal
kemudian dengan saptalinggagiri kedatangan mereka itu bertepatan dengan Perwani
Tileming Kasanga ( untuk refrensi mengcek kesahihan, silahkan cek Babad Bhatara
Rarasa dan lontar Bhisama-Griya Buduk- tulisan Bapa Gede Sura-1992): disanalah
salah satu perintah yang harus diemban adalah melaksanakan Berata penyepian.
Izinkan saya mengutip," ....brata penyepian lwir sawung anggeram anda, yan
tan panes awaknya tan lumekas ikang anda. Yan tan sepi ing idep, sepi ing
pamrih, sepi ing gawe, tan molih yoganta. Iki ngaran penyepian. Ingon-ingon
Dewi Mas Ayu Danu kang gineseng- dening apwining giri Tolangkir, mangke juga
pamarisudha ning ingwang. Poma. Poma. Poma. Uluning bawi manadi mrana tikus,
walungnya manadi walangsangit, jejeronnya manadi mrana tan pasangkan. Yan pageh
samanta ratu ngamong rat, rong puluh taun sapisan hane mrana wangsangit hana
mrana tikus. Yan tan pageh tan wilangan dina mrana pasangkan dateng. Iki
rungwakna, kaki patuk nini patuk angadegaken maring pasar agung. Ni Bhuta kala
katung pinaka pangsaranan pasar, soang karya ri basukih atakwan pwa ring pasar
agung, yang tan prasisa kabehan, ke wala jejaten juga wenang...."--
peristiwa ini jauh lebih tua dari era Raja Marakata, jauh lebih tua dari
kedatang Mpu Kuturan sang pendiri desa pekraman dan kahyangan tiga:dll, jauh
lebih tua dari era Gelgel. Jadi tradisi nyepi, dapat dijenguk berkaitan dengan
upacara Nangluk Mrana, di pasar hingga ada penyiwian untuk tiga jenis epidemik
di Bali yakni; Jro Ketut, Jro walang sangit dan Jro kedis perit (silahkan cek
ke pura pasar agung)
Maka ritus nyepi ini bergerak dari satu era ke era
lainnya, dan dalam jajaran bentangan upacara-upacara di desa-desa bali kuna
(bukan bali mula) ditemukan berbagai jenis nyepi dan di era selanjutnya nyepi
juga dilaksanakan ditengah runutan upacara besar yang disebut nyuwung. Dan
entah berapa kali pendatang tiba di bali, menjadi kemudian penduduk Bali, nyepi
terus dilakukan. Sebab Saptalinggagiri itu tetap ada. tetap diyakini, tetap
menjadi dasar dari kestabilan pulau ini. Berbilang-bilang kisah pertemuan
tradisi budaya dengan budaya luar, dengan negeri cina, mesir, dst; jejaknya
adalah pada karya seni, artefak, kuliner; dst. Dan selama itu, Bali adalah hati
yang terbuka sekaligus kokoh pada komitmen awal yakni menjaga kestabilan pulau
bali ini. Maka era Jayakesunu, lebih menegaskan (era Singamandawa, anak wungsu,
dkk); ini adalah era penguatan pencerahan untuk tetap menjaga kejatimulaan bali
itu dengan tetap merayakan Nyepi dan Kasang, galungan, kuningan, purnama,
tilem, semua tumpek. Itu adalah sejatinya 'agama' yang disimpan dalam upacara-upacara. Bukan kali
ini saja Bali didatangi oleh orang luar, bahkan setiap era. Dan semuanya tahu,
bahwa Bali memang agamanya berbeda, tata caranya juga berbeda dalam
memperilakukan keagamaannya. Sekalipun kemudian masuk agama budha, Hindu
(siwait), dll, bahkan di era Belanda, penjajah ini pun memahami bahwa Bali ini
memiliki tradisi yang sangat bagus untuk menjaga keharmonian; tidak hanya pada
hubungan antar manusia, namun dalam menjaga alam (lingkungan). Lalu Jepang pun
demikian. Maka peradaban Bali itu; sebagai negeri sudah mantap dan jauh dahulu
kala telah memiliki hubungan internasional.
Maka ketika bergabung ke Indonesia, Bali pun sempat
bargaining persoalan agamanya. Bali, pulau kecil ini tidaklah meratap untuk
bergabung, tetapi dengan syarat bahwa agama, budayanya, dan seluruh keunikannya
dihormati dan dihargai dalam tata negara Indonesia, maka Bali akan menjadi
bagian yang setia. Jika kini, ada yang menyoal; apakah pelaksanaan nyepi itu
memaksa warga yang bukan hIndu bali dan dikait-kaitkan dengan toleransi dan hak
asasi; bahkan menjadikan kewilayahan NKRI memberikan kebhinekaannya kepada
semua warga, sehingga seharusnya yang non Hindu Bali boleh tidak ikut nyepi
(?)--Saya tidak menjawab, tetapi saya hanya akan menjelaskan; bahwa Bali ini
memang memiliki perbedaan dan barang siapa yang hendak hidup di Bali, harus
menyadari; bahwa di masa ini, salah satu asset ekonomi Bali, yang menghidupi
kebanyakan bukan orang Bali adalah dari tradisi, agama, budaya dan seni. Bukan
dari pemandangan!. Nyepi adalah ritus untuk Bumi dan semesta, ini sifatnya
tidaklah untuk meagamakan, namun ini spiritnya kepada siapapun juga yang
tinggal di bali adalah untuk mengajak dan menyadari; bahwa ada panca mahabhuta;
lima energi besar, yang menjadi kekuatan kehidupan itu perlu diberikan ruang
untuk mengobati dirinya. Nyepi adalah proses penyembuhan, air, udara, tanah,
suara, dst; seluruh elemen lingkungan hidup ini dalam era masa ini apalagi;
polusi, polutan; dst. itu perlu direhat sejenak; secara modern; nyepi adalah
terapi terbaik bagi alam semesta ini. Karena setiap orang; mau agama apapun;
dia perlu udara, dia perlu air, dia perlu keheningan; bukan kebisingan, dia
perlu merasakan belajar dalam kegelapan, untuk menghargai energi cahaya; dst.
Karena itu, Nyepi menjadi inspirasi kepada seluruh dunia mengenai hemat energi
dan penyelamatan lingkungan. Ini jawaban saya untuk siapa saja yang menyoal
nyepi dan merasa tak nyaman saat berada di Bali. Dan ingatlah, Bali dan
peradabannya, jauh ada sebelum Indonesia ini ada, dan kami semua membagi
keselamatan dengan perilaku nyata. walau tak sempurna, namun kami yakin, udara,
air, telinga anda, dan banyak lagi yang lain, disegarkan dan menjadi bagian
dari tubuh anda dalam menyehatkan diri anda secara lahir dan batin, sehingga
anda bisa melakukan keyakinan anda masing-masing dengan lebih teguh dan kokoh.
Inilah duka cita saya, saat membaca hinaan, caci maki serta protes mengenai
nyepi di medsos, yang saya baca dengan kepedihan sekaligus merasa seharusnya;
kita semua dapat saling menjelaskan apa tujuan dan hakekat dari nyepi. Salam
damai
By: Media kerohanian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar