Rabu, 01 Juli 2015

filsafat biji-bijian dalam upacara hindu



Peranan, Makna, dan Filsafat Biji-bijian Dalam Upakara

I. Latar Belakang

Sebagai umat yang beragama Hindu sudah sepantasnya kita mengetahui tiga kerangka dasar agama Hindu yaitu Tattwa, Susila dan Upacara. Tattwa adalah pengetahuan kita sebagai umat Hindu terhadap filsafat dan makna dari agama Hindu, Susila adalah pengetahuan kita terhadap tatanan hubungan social yang kita jalankan di masyarakat, dan Upacara adalah berbagai ritual yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk memuja dan mengungkapkan rasa cinta dan syukur kita ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu berdasarkan masing-masing hutang yang dimiliki, yang disebut juga dengan Tri Rna. Tiga hutang tersebut terdiri dari Dewa Rna adalah hutang kepada Tuhan karena telah menciptakan manusia beserta alam semesta kemudian dibayarkan dengan melaksanakan upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Hutang yang kedua adalah Rsi Rna yaitu hutang kepada para pendeta dan guru suci karena beliau telah memberikan tuntunan suci kepada umat manusia agar dapat menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, juga pendeta sebagai pengantar dan menghaturkan segala sesajen kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Rsi Rna ini dibayarkan dengan melakukan upacara Rsi Yadnya. Dan hutang yang ketiga adalah Pitra Rna yaitu hutang kepada sesama manusia, termasuk orang tua kita, sanak sodara dan manusia lainnya. Pitra Rna ini dapat dibayarkan dengan melaksanakan upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Manusa Yadnya adalah upacara manusia sejak dalam kandungan hingga menikah termasuk juga memberikan jamuan makan kepada teman dan saodara yang datang dalam upacara tersebut. Sedangkan upacara Pitra Yadnya adalah upacara yang dilakukan ketika saudara kita meninggal hingga upacara penyucian arwah dan arwah yang suci tersebut kembali distanakan untuk dipuja di rumah masing-masing.
Dalam kelima jenis Yadnya tersebut banyak sekali pemakaian sarana dan prasarana dalam upakara. Sarana upakara tersebut tentunya berasal dari alam seperti bunga, dedaunan, buah-buahan serta biji-bijian. Pemakaian berbagai macam sarana tersebut akan menyatu kedalam daya seni dan kreasi masing-masing manusia yang menghaturkan sesajen tersebut, sesuai dengan sifat Yadnya yang menyatu kedalam setiap situasi dan kondisi di wilayah setempat. Yang dibahas dalam makalah ini adalah pemakaian biji-bijian dalam pembuatan sebuah upakara persembahan.
Biji-bijian sangat banyak sekali kegunaannya dalam sebuah upakara. Dan hampir setiap upakara memakai biji-bijian baik itu biji-bijian secara utuh maupun biji-bijian sudah diolah sedemikian rupa menjadi tepung ataupun nasi. Dalam makalah ini akan mencoba memilah dan lebih merinci pemakaian biji-bijian dalam setiap upakara dan sesajen. Dan dalam makalah ini akan mencoba menjelaskan makna dan filsafat biji-bijian dalam persembahyangan serta biji-bijian apa saja yang dipakai untuk segehan dalam upacara Bhuta Yadnya.

II. Pembahasan

2.1 Pemakaian Biji-Bijian Dalam Upakara
Buah-buahan dan biji-bijian juga merupakan sebagai sarana dalam upacara yadnya. jenis buah-buahan dan biji-bijian banyak digunakan oleh umat hindu sebagai persembahan dan sebagai wujud rasa terima kasih ke hadapan Hyang Widhi yang Maha Esa pengasih dan dan maha pemberi. Apa yang kita miliki itulah yang dipersembahkan. Hasil karya berupa buah dan biji-bijian sebenarnya merupakan anugerah Tuhan, dan perlu disadari bahwa segala yang ada merupakan ciptaan-Nya. Sarana persembahan berupa buah-buahan dan biji-bijian hendaknya dipersembahkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selalu dalam keadaan suci atau sukla. Diushakan agar tidak mempersembahkan suatu sarana yadnya yang bukan milik sendiri, apalagi memperoleh sarana persembahan dengan jalan kekerasan atau hasil curian, sudah tentu hal seperti ini sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu.
Pemakaian biji-bijian dalam upacara keagamaan yang dirangkaikan dalam sebuah upakara sangat banyak sekali pemakaiannya. Semua jenis upakara hampir memakai biji-bijian dari bentuk bijinya yang kecil hingga bijian yang besar. Seperti yang telah disebutkan dalam Bhagawad Gita IX.26 yaitu :

patram puspam phalam toyam       yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam            asnami prayatatmanah
Artinya :
Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bhakti, aku akan menerimanya.
Dari sloka diatas dapat disimpulkan bahwa kegunaan biji-bijian sangatlah penting dalam setiap upakara, dalam artian biji-bijian merupakan persembahan yang wajib dalam setiap upacara.

Pemakaian biji-bijian antara lain terdapat dalam upakara seperti daksina. Daksina biasa kita temui dalam setiap upakara, terutamanya adalah upakara pejati. Kata daksina mengandung arti Brahma, dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi (sudarsana,18), dengan demikian bahwa daksina merupakan simbol dari stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maka daksina dijadikan tempat duduknya para dewa sebagai manifestasi Tuhan yang akan diberikan persembahan. Pemakaian biji-bijian dalam daksina adalah menjadi simbol udara sebagai cerminan Sang Hyang Bayu (sudarsana,18). Biji beras dalam daksina biasanya diletakkan sebagai dasar, atau di bagian bawah di dalam bedogan, sebagai dasar dari kelapa yang merupakan simbol dari Brahma.

Pemakaian biji-bijian berikutnya adalah pada uapakara yang sering kita temukan yaitu peras. Peras merupakan bagian dari upakara pejati. Dalam peras kita temukan juga pemakaian biji –bijian berupa beras yang dikukus dan dibentuk erucut yang kecil, dalam upakara dikenal dengan istilah tumpeng atau penek. Tumpeng yang terdapat di peras adalah sebanyak 2 buah dengan bentuk dan ukuran yang sama. Tumpeng dua buah merupakan simbol gunung, dan cerminan dari kekuatan purusanya Sang Hyang Widhi, sekala niskala (sudarsana,26). Meskipun biji-bijian dalam peras tersebut tidak seperti pada daksina, namun tetap pada dasarnya bahan bakunya adalah dari biji beras, namun cara penyajiannya saja yang berbeda.
Pemakaian biji-bijian dalam bentuk lain adalah berupa biji beras yang di tumbuk hingga halus sehingga berbentuk seperti tepung. Biji-bijian yang halus ini dapat kita jumpai pada sarana upakara yang kita kenal dengan penyeneng. Dalam buku acuan yang kami pergunakan dalam penyeneng diisikan beras tumbuk atau tepung. Dalam praktek di lapangan juga dijumpai penyeneng yang diisi biji beras utuh yang tidak di haluskan. Dalam buku Sudarsana halaman 32 disebutkan; penyeneng ini  pertama diisi tepung disebut “tepung tawar”, lekukan kedua diisi arang jajan dan daun kayu sakti yang digilas keduanya disebut “pengresikan”, dan lekukan yang ketiga diisi kapas yang berisi minyak wangi yang disebut “pengelenga”.
Pemakaian biji-bijian dalam upakara yang lain cukup banyak sekali, seperi pada bagia pulakerti juga dimasukkan beberapa jenis biji-bijian, dan berbagai jenis jaru juga memakai biji-bijian. Dalam pelaksanaan agni hotra juga dipersembahkan biji-bijian kepasa Sang Hyang Agni, dengan melempar biji-bijian tersebut kedalam api. Sedemikian banyaknya pemakaian biji-bijian dalam setiap upakara yang dibuat sebagai bahan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

2.2 Makna Filosofi Bija Dalam Persembahyangan

Bija sangat sering kita dengar dan kita pakai saat selesai persembahyangan, apakah kita sudah mengetahui apa makna dari bija tersebut?, dan apa filosofi dari bija tersebut?. Bija yang kita ketahui terbuat dari beras utuh yang telah direndam dengan air suci (tirtha) sehingga bija tersebut mudah ditempelkan pada kulit dahi. Bija dibagikan pada akhir dari rangkaian persembahyangan, setelah memohon tirta baru dibagikan bija.
Mengenai bija ini adalah lambang bibit kesucian yang harus ditanam dalam lubuk hati sanubari. Bija artinya secara leksikal adalah biji. Phalawija artinya buah yang berbiji. Namun dalam hal upacara keagamaan ini bija adalah sarana upakara dalam pemujaan yang dibuat dari biji beras yang utuh tidak boleh memakai beras yang patah direndam di air cendana. Ada juga yang dicampur dengan kunir, sehingga menjadi berwarna kuning. Karena itu bija disebut juga Aksata. Ksata artinya patah. Aksata artinya tidak patah atau utuh. Bija dalam bahasa jawa kuna juga berarti Putra. Putra dalam bahasa Sanskerta artinya anak penyelamat dari neraka. Anak dalam bahasa sanskerta disebut juga Kumara. Dewa Kumara adalah Tuhan sebagai dewanya anak-anak. Dalam kitab weda Parikrama mantram untuk membuat bija menggunakan Kumara Mantra. Ini artinya dewa dari bija adalah Dewa Kumara. Ini berarti dengan kita mendapatkan bija selesai sembahyang kita telah mendapatkan bibit kesucian dari Dewa Kumara (wiana, 104).

Kembali pada masyalah mabija setelah sembahyang sebagai proses memohon benih-benih kesucian pada Hyang Kumara. Kumara dalam pantheon Hindu adalah putra dewa Siwa. Ini berarti prosesi pemakaian bija adalah suatu prosesi mendapatkan benih-benih ke siwaan atau keilahian. Dengan kata lain mebija adalah suatu upaya rohani untuk menjadi putra-putra siwa atau Tuhan. Dengan demikian umat merasa semakin dekat denga Tuhan. Pemakaian bija setelah sembahyang biasanya pertama dimakan lima atau tiga biji, setelah itu diletakkan pada bagian badan yang diyakini memiliki kepekaan rohani. Misalnya diantara kening atau biasanya disebut selaning lelata. Radius selaning lelata itu sampai pelipis kiri dan kanan dan juga di hulu hati. Memang tidak ada sumber suci yang pasti menyebutkan dimana seharusnya bija itu diletakkan. Untuk kebersamaan telah disepakati untuk ditelan dan diletakkan diantara kening atau selaning lelata. Diantaranya yang terpenting itu adalah ditelan. Hal ini dapat kita perhatikan konsep keberadaan Tuhan menurut Sweta Swatara Upanishad, 20 yang menyebutkan bahwa sang diri Yang Maha Agung itu berkeadaan lebih kecil dari yang terkecil, lebih halus dari yang terhalus, lebih besar dari yang terbesar dan bersemayam di hati setiap makhluk. Ini artinya kalau kita ingin menyemaikan benih-benih Ketuhanan dalam diri tunjukkanlah pada hati kita.
Bija memiliki beberapa makna filosofis yang dikaitkan dengan spiritualisme.
  1. Kita lihat dari asal katanya. Bija berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang diadopsi dari kata vija (Sanskrit). Vija dapat dikaitkan dengan kata (pranava) Om sebagai nama utama dari Tuhan. Om juga disebut vijaksara, sebagai aksara Brahman yang tertinggi. Om adalah nama Tuhan yang paling sakral dan memiliki makna yang tidak terbatas. Memakai bija di kening berarti memuja Tuhan dalam wujud Omkara. Hal ini juga berarti konsentrasi pikiran menuju kesempurnaan Tuhan. Orang yang memakai bija (tilaka) diharapkan dapat mewujudan perilaku sattvika, pengasih, dan bijaksana. Demikianlah makna kata bija yaitu sebagai kata lain dari Omkara.
  2. Bija memiliki makna anatomis. Dalam Siva Samhita ditemukan sloka-sloka tentang tujuh cakra (simpul syaraf) utama yang membujur di sepanjang tulang belakang. Ketujuh cakra itu memengaruhi fungsi biologis dan fisiologis tubuh. Salah satu cakra adalah cakra Ajna (baca: adnya) yang terletak di kedua alis. Cakra ajna memiliki daun bunga dua yang dalam masing-masing kelopaknya bertuliskan aksara vam dan ksam. Siva Samhita juga menyatakan bahwa cakra ini adalah petemuan tiga pembuluh, yaitu ida, pinggala, dan susumna. Pertemuan ketiganya ini disebut Triveni. Pembuluh ida (pembuluh bulan) yang dingin mengalir dari bagian kanan cakra ajna dan berbelok menuju lubang hidung sebelah kiri, semantara pinggala (pembuluh matahari) yang hangat mengalir dari bagian kiri ajna dan berbelok ke lubang hidung kanan. Ida membawa hawa dingin dan aktif pada malam hari, sedangkan pinggala membawa hawa panas yang aktif pada siang hari. Oleh sebab itu, seseorang yang sehat akan menghembuskan udara yang agak hangat dari lubang hidung kanannya, sementara dari lubang hidung kirinya akan terhembus udara yang agak dingin. Pembuluh ketiga yaitu susumna adalah jalan keluar-masuk roh. Dalam kaitannya dengan pemakaian bija di kening, kita diharapkan mampu mengaktifkan energi dari ketiga pembuluh tersebut untuk menciptakan kesehatan yang baik. Apalagi jika seseorang mampu berkonsentrasi pada ajna, makhluk-makhluk seperti yaksa, gandharva, kinnara, dan apsara akan mematuhi perintahnya (Siva Samhita 113).
  3. Bija memiliki makna benih. Bija terbuat dari beras yang seharusnya lonjong sempurna, bukan butiran-butiran yang terpecah-pecah seperti yang sering kita temui. Beras yang bentuknya sempurna melambangkan lingga, stana Siva Mahadeva. Selain itu, beras yang bentuknya sempurna juga melambangkan alam semesta yang juga berbentuk bulat. Bija adalah benih padi yang berwarna putih yang bermakna hendaknya kita menumbuhkan benih-benih kesucian dalam kehidupan. Kini banyak kita lihat orang-orang yang memakai bija tetapi tidak mampu menumbuhkan benih-benih kesucian dalam dirinya. Apabila semua orang dapat menumbuhkan kesucian dalam dirinya, semua akan dapat memanen hasilnya yaitu padi keharmonisan.
  4. Bija memiliki makna kesungguhan dan kesadaran karena seseorang yang memakai bija berarti orang yang seharusnya memiliki keyakinan dan kesadaran akan kewajibannya untuk mendekatkan diri ke hadapan Tuhan. Orang yang memakai bija akan merasakan bahwa Tuhan berstana dalam dirinya sebagai Paramatman dan merasa terlindungi. Ia juga akan merasakan bahwa Tuhan berada dalam setiap makhluk hidup, termasuk kuman-kuman, bakteri, tumbuhan, dan hewan. Dengan demikian, ia akan belajar untuk menghormati eksistensi makhluk lain sebagai bagian dari kekuasaan Tuhan.
2.3 Biji-Bijian Yang Dipakai Untuk Segehan

Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang kecil disebut dengan “Segehan“, Sega berarti nasi (bahasa Jawa: sego). Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya (manacikapura,13-05-2014:13.00). Segehan yang terbuat dari sego atau nasi ini juga terbuat dari biji-bijian namun biji-bijian yang telah dimasak menjadi nasi. Biji beras yang dimasak menjadi nasi dan diberi warna sesuai dengan arah mata angin. Dalam praktek lapangan ada juga yang menghaturkan segehan itu berupa biji-bijian sesuai dengan warnanya. Misalkan warna hitam dipakai biji ketan hitam yang dihaturkan ke arah utara, warna kuning dipakai ketan yang dihaturkan ke arah barat, warna putih dipakai beras yang dihaturkan kearah timur, dan warna merah dipakai beras merah yang dihaturkan ke arah selatan.

Segehan yang berupa nasi dibentuk dengan berbagai cara seperti nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng (nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya. dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.
Segehan adalah sejenis banten caru kecil yang ditujukan pada alam bawah, terutama sekali alam bhutakala. Menurut kepercayaan Hindu di Bali, perwujudan Bhutakala adalah penjelmaan dari saudara empat kita yang diajak lahir bersama, karena suatu hal proses alam, maka beliau ini berubah wujud dalam bentuk bhuta yaitu :
  1. Darah menjadi Anggapati/nafsu/kala jahat yang ada dalam tubuh manusia,
  2. Lamas menjadi Mrajapati sebagai penghuni setra atau kuburan dan perempatan/pertigaan agung,
  3. Yeh Nyom menjadi Banaspati dapat berupa jin, setan, tonya, penjaga sungai/pangkung/jurang dan tempat keramat lainnya, dan
  4. Ari-ari menjadi Banaspati Raja, sebagai penghuni dan penjaga pohon kayu besar/hutan (pasek,32)
Jenis-jenis segehan ini bermacam-macam sesuai dengan bentuk dan warna nasi yang di gunakannya. Adapun jenis-jenisnya adalah Segehan Kepel dan Segehan Cacahan, Segehan Agung, Gelar Sanga, Banten Byakala dan Banten Prayascita.

Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Fungsi segehan ini sebagai aturan terkecil (dari caru) untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar terbina keharmonisan hidup, seluruh umat manusia terhindar dari segala godaan sekala niskala, terutama terhindar dari gangguan para bhuta-kala (Kala Bhucara-Bhucari). Segehan yang besar berbentuk caru.
Warna segehan disesuaikan dengan warna kekuatan simbolis kedudukan di dikpala dari para dewa (Istadewata) yang dihaturi segehan. Pada waktu selesai memasak, dipersembahkan segehan cacahan (jotan, yadnya sesa, nasinya tidak dikepel, tidak dibuat tumpeng) kehadapan Sang Hyang Panca Maha Bhuta. Segehan ini dihaturkan di tempat masak (api), di atas tempat air (apah), di tempat beras (pertiwi), di natah/halaman rumah (teja), dan di tugu penunggu halaman rumah (akasa). Dalam hal ini bahan yang dimasak (nasi, sayur, daging, dan lauk-pauk lainnya) itu diyakini terdiri atas bahan panca mahabhuta. Segehan ini dihaturkan sebagai tanda terima kasih umat terhadap Hyang Widhi karena telah memerintahkan agar para bhuta (panca maha bhuta) membantu manusia sehingga bisa memasak dan menikmati makanan, dapat hidup sehat, segar dan sejahtera.

Ada pula segehan yang dihaturkan di perempatan jalan, di halaman rumah, di luar pintu rumah, dan sebagainya. Itu disebut segehan manca warna, kepel, atau agung. Segehan manca warna ini di timur berupa nasi berwarna putih (Dewa Iswara), di selatan nasi berwarna merah (Dewa Brahma), di barat nasi berwarna kuning (Dewa Mahadewa), di utara nasi berwarna hitam (Dewa Wisnu), dan di tengah-tengah nasi berwarna manca warna atau campuran keempat warna tadi (Dewa Siwa), sesuai dengan kekuatan Istadewata yang berkedudukan di empat penjuru arah mata angin ditambah satu di tengah-tengah.

III. Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah :
  1. Menurut Bhagawad Gita Adhyaya IX, sloka 26 menyebutkan bahwa biji-bijian adalah bagian dari persembahan, maka biji-bijian merupakan sesuatu yang wajib dipersembahkan dalam setiap upacara.
  2. Persembahan dalam bentuk biji-bijian tidak kanya berbentuk utuh seperti bentuk aslinya, juga bisa diolah seperti dikukus dan dibentuk menyerupai limas sebagai simbol gunung dan di giling menjadi tepung yang biasa disebut sebagai tepung tawar.
  3. Biji-bijian juga dipakai setelah persembahyangan tepatnya setelah memohon tirta wangsuh pada, dan bijian yang berupa biji beras tersebut ditaruh dibeberapa bagian tubuh yang memiliki kepekaan terhadap kerohanian seperti di ubun-ubun, di dahi dan pelipis.
  4. Bija pada intinya harus ditelan karena bija sebagai simbol benih-benih siwa yang akan tumbuh dalam tubuh manusia. Sehingga benih siwa itu akan tumbuh menjadi siwa-siwa baru dalam diri manusia.
  5. Biji-bijian yang dipakai untuk segehan adalah berupa biji beras putih yang dimasak menjadi nasi, kemudian nasi tersebut diberi warna sesuai dengan warna arah mata angin.
  6. Biji-bijian yang dipakai segehan juga dapat berupa biji-bijian murni yang memiliki warna sesuai dengan warna biji tersebut, seperti warna hitam diwakilkan oleh biji ketan hitam, warna kuning diwakilkan oleh ketan putih, warna putih diwakilkan oleh biji beras, dan warna merah diwakilkan oleh biji beras merah. 
sekian kutipan artikel ini, terimakasih atas kunjungannya dan menyempatkan diri untuk membaca.
suksme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar